SEMAKIN BANYAK YANG TERSESAT DI BLOG INI SEMAKIN BAGUS!

Minggu, 13 September 2015

Sepotong Hati di Tepian Sungai Musi


Cerpen ini, aku buat untuk ikut lomba cerpen di Balai Bahasa Sumatera Selatan untuk kalangan mahasiswa tapi apa mau dikata aku gak menang, ya lah.. masih banyak yang bagus ketimbang cerpen aku sih! tapi biar gak mubazir cuma dianggurin doank, aku post deh. kali aja kalian suka.

Alex menyeruput kopi espressonya seraya memandang ke arah kapal-kapal yang berlayar menyusuri sungai musi, menikmati secangkir espresso di sebuah resto di pinggiran Sungai Musi sambil menunggu kedatangan tour guide atau pemandu wisata yang akan memandunya menyusuri Kota Palembang.
Alex Hutcherman, pria 28 tahun seorang pengusaha muda asal Amerika yang sudah dua tahun mengembangkan bisnis kafenya di Indonesia. D’Cuizine merupakan nama kafe miliknya, sudah ada 3 cabang yang ia buka di Indonesia. Bali, Jakarta, dan Makasar menjadi kota yang ia pilih, ia pun berencana melebarkan bisnis kafenya di kota Palembang. Namun sebagai orang asing yang tidak mengetahui sejarah maupun kuliner di kota Palembang, ia pun membutuhkan seorang pemandu wisata yang jelas lebih mengetahui informasi tentang kuliner kota Palembang maupun sejarahnya.
            “Hello! My name Nyimas Ayu Hasanah, i’m is your guide for  tour today.  You can call me Ayu, and you...???”. Seorang perempuan berhijab merah muda tersenyum seraya mengulurkan tangan ke arah Alex.
Alex menatap perempuan itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perempuan berhijab itu tersenyum kecil ke arahnya masih mengulurkan tangan.
            “Owh... Sorry, Alex.., Alex Hutcherman!”. Ucap Alex menjabat tangan perempuan itu.
            “May i..”, Ayu menunjuk kursi kosong yang berhadapan dengan Alex.
Alex memukul jidatnya. “Owh.. yes, please sit down!”.
            “Thanks. So, what place that we are going to start? Ehm.. how about Ampera Bridge??”. Tanya Ayu yang ingin segera memandu Alex berkeliling kota Palembang.
            “Kamu tidak usah..., i mean..., ehmm.. maksud saya, saya bisa Bahasa”. Jawab Alex, Ayu pun terkesimah, iya tak menyangka pria bule itu bisa berbahasa Indonesia.
Alex tersenyum melihat wajah Ayu yang nampak bingung.
“Kamu jangan bingung, dua tahun sudah saya berada di Indonesia. Jadi saya sudah bisa sedikit-sedikit Bahasa. Oh ya kita tidak perlu berkeliling kota, saya hanya mau kamu menjelaskan bagaimana kuliner di sini, karena saya ingin membuka sebuah kafe di kota ini, jadi itu sudah cukup”. Jelas Alex terbata-bata dengan logat khas Amerikanya.
Raut wajah Ayu tampak bingung. Aneh! Untuk apa pria ini menyewa tour guide jika hanya untuk berbincang tanpa mau berkeliling kota Palembang, pikir Ayu.
            “Sir.., kenapa anda tidak mau berkeliling? Bukankah anda harus mengetahui rasa makanan di sini baru bisa mengetahui bagaimana ciri khas kuliner di kota ini?” ucap ayu kebingungan.
Alex tertawa. “Semua tempat wisata itu sama saja, saya sudah membuka 3 cabang kafe di Indonesia dan saya tidak perlu ikut mencoba kulinernya, karena semua sudah ada pegawai yang atur.” Seru Alex.
Ayu tersenyum seraya mengambil sebuah permen di dalam tasnya. “Apakah anda tahu rasa permen ini?”. Ayu memberikan sebuah permen ke tangan Alex.
            “Off course i know! rasanya maniss..!”.
Ayu menggelengkan kepalanya. “Anda salah, rasa permen itu bukan hanya manis, namun ada rasa asamnya. Karena permen itu rasa lemon. Jadi untuk mengetahui rasanya anda harus mencobanya terlebih dahulu, kemudian baru anda bisa ceritakan kepada orang lain bagaimana rasanya, Try It! Tell it!”. Jelas Ayu. “Saya tahu anda seorang atasan, namun seorang atasan bukankah harus tahu apa yang akan ia kembangkan!, jika anda keberatan berkeliling dengan saya, anda bisa memanggil tour guide yang lain, mungkin karena saya mengenakan...”. Ucap ayu sambil memegang hijabnya.
            “No.., bukan.., bukan karena itu”. Balas Alex. “Saya tidak pernah membedakan orang dari penampilannya atau agamanya, itu tidak baik!”. Lanjutnya serius.
“Alhamdulillah, tapi saya hanya menyarankan agar anda mau mencoba. Jangan hanya berbincang-bincang saja, maafkan kalau saya lancang Sir..”. lanjut Ayu menambahkan.
Alex tertegun mendengar penjelasan dari Ayu. Ia tak menyangka mendapatkan penjelasan yang sangat di luar dugaannya, memang selama ini ia tidak pernah mau mencoba berkeliling maupun mencicipi makanan yang ada di Indonesia, setelah mendapatkan penjelasan dari beberapa pemandu wisata ia langsung meminta pegawainya yang berasal dari Indonesia untuk mengatur menu apa yang akan ia masukkan ke dalam daftar menu di kafenya. Alex pun jarang sekali berkeliling kota di Indonesia, ia banyak menghabiskan waktunya di Apartemen tempat ia tinggal di Jakarta Barat.
Alex berdiri dari kursinya. “So, kita harus mulai dari mana?”.
Mereka pun menyusuri tepian sungai musi. Di sana Ayu menceritakan tentang sejarah Benteng Kuto Besak, yang dulunya adalah sebuah bangunan keraton yang ada di kota Palembang yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin 1, benteng itu terbuat dari semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Alex yang mendengar pun tampak takjub, ia tak percaya bahwa Benteng yang ia lihat sekarang dibangun dengan menggunakan bahan dari putih telur.
Ayu membawa Alex duduk di tepian Sungai Musi sambil membawakan satu mangkuk mie untuk Alex.
“Apa ini??”. tanya Alex bingung.
“Lihat yang berdagang di sepanjang jalan ini?”. tanya Ayu yang dijawab Alex dengan anggukan. “Itu pedagang mie tek tek!! dan yang di tangan anda sekarang itu namanya mie tek-tek!”. Jawab Ayu.
Alex tertawa kencang. “Whatss!! Mie tek...??”
            “Iya! Mie tek-tek!, terbuat dari tepung terigu dan kita bisa memilih mau yang berkuah atau yang goreng, seperti di tangan saya sekarang. Saya memilih mie kuah, dan yang di tangan anda itu mie goreng, try this!!”.
Alex mencicipi mie tek-tek sedikit dengan sendoknya. “Ehmm... not bad! Ini enak.” Kemudian ia melanjutkan memakan mie itu dengan lahapnya. “Boleh saya mencoba yang kamu?”. Ucap Alex.
Ayu nampak ragu. “Apakah kamu yakin? Saya menambahkan beberapa sendok cabe ke dalamnya”.
            “Tentu saja, saya ingin mencoba!” seru Alex.
Wajah alex memerah setelah mencoba mie yang Ayu makan, tampaknya ia tidak tahan pedas. Spontan membuat Ayu tertawa kencang melihatnya.
            “Owh.. God! This is hot!!!”. Ucap Alex seraya meminum air mineral botolnya sampai habis.
Hari ini Ayu membawa Alex menikmati kuliner-kuliner yang ada di kota Palembang, mulai dari mie tek-tek, tekwan, pempek, celimpungan, model, ragit dan yang paling disukai oleh Alex adalah tekwan. Alex berkata tekwan itu seperti sup yang hangat, dan ia sangat menyukainya. Jika ia akan membuka kafe atau restauran di kota Palembang ia memastikan akan memasukkan tekwan ke dalam daftar menunya.
Hari ini merupakan hari kedua Ayu mengajak Alex berkeliling, Ayu mengajak Alex untuk naik becak menyusuri jalanan kota Palembang, mulai dari Benteng Kuto Besak, Masjid Agung dan Pasar 16, walaupun cuaca panas namun Alex tetap menikmati perjalanannya dengan menggunakan becak.
            “Sampe sini bae wak, makasih yo!”. Ucap Ayu kepada tukang becak yang tak lain adalah Paman Ayu sendiri. Ayu mencium tangan pamannya.
            “Iyo ati-ati bae bejalan tuh!”. Nasehat paman Ayu kepada keponakannya.
            “Saya ada pertanyaan. Mengapa kamu harus mencium tangan orang tersebut, bukankah itu berlebihan?”.
            “Di Indonesia, jika kita bertemu dengan orang yang kita kenal dan orang itu lebih tua dari kita, kita harus memberi salam dan mencium tangannya, itu suatu budaya. Di Indonesia kita harus mencium tangan kepada orang yang lebih tua, di Thailand anda harus merapatkan kedua tangan untuk menyapa, di Jepang anda harus menundukkan kepala. Jadi budaya di setiap negara itu berbeda, tentu di negara anda juga ada yang seperti itu.”
            “Menurut saya, adat dan budaya itu hanya membatasi manusia”. Ucap Alex.
Ayu menahan tawanya. “Tanpa sebuah budaya, idealisme manusia akan hilang!. Budaya, adat istiadat merupakan peraturan yang dibuat oleh masyarakat untuk menuntun masyarakatnya menjadi lebih baik, bukankah segala apa yang kita lakukan memang harus dibatasi? Jika tidak dibatasi, entah apa yang akan terjadi. Ayo! Saya akan membawa kamu melihat budaya Palembang yang tidak akan kamu pernah lupakan.” Ajak Ayu kepada Alex.
Alex terlihat murung. “Walaupun kamu membawa saya melihat banyak hal di Kota Palembang, namun saya hanya tinggal sebentar di sini! Minggu depan saya harus pulang ke Amerika, dan semua bisnis saya akan dilanjutkan oleh pegawai saya.” Jelasnya panjang lebar. “Saya harus melanjutkan study S2 saya di Amerika, jadi mungkin akan lama untuk datang lagi ke Indonesia.” Lanjutnya pelan seraya menghela nafas.
Ayu tersenyum menatap Alex. “Saya tidak perduli kamu akan tinggal di sini berapa lama, yang terpenting kamu harus dapat kenangan indah di sini! Dengan begitu tugas saya sebagai pemandu wisata kamu telah saya lakukan dengan baik!”. Jawab Ayu.
Ayu membawa Alex ke tempat pernikahan salah satu temannya. Entah apa yang ada di pikiran Ayu, namun yang ada di benaknya hari itu hanyalah ingin memberikan kenangan terindah bagi Alex. Ayu ingin menunjukkan bahwa tidak semua budaya dan adat istiadat itu buruk dan membatasi, tapi banyak dari budaya dan adat istiadat itu yang memberikan manfaat dan pelajaran berharga bagi manusia.
Semua tamu yang menghadiri pernikahan menyambut baik kedatangan Alex, bagi orang awam yang jarang bertemu dengan orang asing tentu saja Alex menjadi tontonan yang sangat menarik. Mereka menyalami Alex satu persatu bak artis papan atas.
            “Ini namanya tari Tanggai. Tari ini ingin menunjukkan sikap tuan rumah yang gembira, ramah, terbuka, dan tulus terhadap tamu agung yang datang. Pakaian yang dipakai oleh para penari adalah aesan gede, yaitu pakaian tradisional khas Palembang, cantikkan?”. Tunjuk Ayu kepada Alex ke arah para penari yang sedang menari di atas panggung pernikahan.
Alex tersenyum. “Ya, it’s beautiful!!, apakah mereka adalah orang tua pengantin??”. Tanya Alex yang menunjuk kedua orang tua pengantin yang tengah duduk menemani anak-anak mereka di pelaminan.
            “Iya, mereka adalah kedua orang tua pengantin, bukankah sangat bahagia jika sebuah pernikahan dapat direstui dan dilihat oleh orang tua kita. Tahun lalu saya menangis ketika melihat kedua orang tua saya menangis pada waktu menikahkan kakak saya yang pertama. Itu adalah hari yang paling bahagia buat keluarga saya”. Jelas Ayu berkaca-kaca.
            “Menurutmu, apa arti keluarga?”. Tanya Alex serius.
Ayu berpikir sejenak. “Ehm.. pertanyaan yang sulit, namun... menurut saya jika surga itu adalah pelabuhan terakhir maka keluarga adalah kapal menuju ke sana”. Jawab Ayu tanpa keraguan di matanya.
Alex tertegun. “kalau begitu saya tidak akan bisa ke surga, karena keluarga saya berantakan! Saya sudah dua tahun tidak pernah berbicara dengan Ayah saya”.
            “Tidak ada kata terlambat. Mengapa anda tidak menelepon ayah anda, pasti dia sangat menantikan kabar dari anda, mungkin dia sekarang sangat merindukan anda”.
Alex tertawa lepas. “Tidak mungkin dia rindu, terakhir kali kami bertemu, kami bertengkar hebat!”.
            “Apa salahnya mencoba, jadi anda tidak penasaran lagi kan. Tapi itu hanya saran”. Jawab Ayu.
Alex senyum-senyum sendiri di kamar hotel tempat ia menginap di Palembang. Ia tertawa ketika mengingat kembali hal-hal yang telah dilakukannya bersama Ayu dua hari ini, mulai dari berburu wisata kuliner, naik perahu ketek menyusuri Sungai Musi, melihat pemandangan Jembatan Ampera di malam hari, dan yang paling membuatnya tertawa ketika semua tamu di pernikahan tidak berhenti menyalami dan berfoto dengannya selayaknya artis terkenal. Ia pun tidak sabar menanti hari esok, entah apalagi yang akan dilakukannya besok bersama Ayu, gadis bertubuh mungil itu bisa membuat hari-harinya penuh warna.
Matahari bersinar dengan cerahnya. Hari ini adalah hari terakhir Ayu menjadi pemandu wisata bagi Alex, 3 hari yang menurut Alex sangat berkesan di hatinya. Selama ini ia tidak terlalu perduli dengan budaya yang ada di Indonesia, pikirannya hanya soal bisnis dan bisnis. Ia baru sadar bahwa banyak sekali budaya di Indonesia yang menarik.
Ayu menghela nafas panjang. “Pulau Kemaro, di sini tersimpan kisah cinta seperti Romeo dan Juliet!”.
Alex menatap Ayu bingung.
“Iya, di pulau ini tersimpan kisah cinta yang mengharukan!, kisah cinta antara putri kerajaan Palembang bernama Siti Fatimah dan pangeran dari negeri Cina Tan Bun Ann, namun akhir kisah cinta mereka berakhir tragis, mereka berdua tenggelam di sungai musi membawa cinta sejati mereka berdua, dan anda lihat gundukan tanah itu, masyarakat percaya itu adalah makam mereka berdua dan para dayangnya”.
Ayu mulai menceritakan legenda Pulau Kemaro, mengapa Putri Siti Fatimah dan Tan Bun Ann menenggelamkan diri ke Sungai Musi yang sebenarnya kecerobohan Tan Bun Ann yang telah mengira bahwa isi sembilan guci itu hanyalah sayur-sayuran, padahal orang tua Tan Bun Ann telah mengisi guci-guci tersebut dengan emas namun mereka menutupinya dengan sayur-sayuran agar para pembajak tidak mengetahuinya.
            “Kisah cinta yang tragis, apakah kamu sudah menemukan pangeranmu?” tanya Alex.
Ayu tertegun mendengar pertanyaan Alex. “Belum, tapi saya yakin Allah akan menuntun saya kepada laki-laki yang bisa menjadi imam dan pemimpin yang baik bagi saya kelak. Saya yakin!”.
Alex tersenyum mendengar jawaban Ayu.
Daun pohon maple berguguran di taman. Alex mengambil beberapa lembar daun maple yang jatuh. Ini menandakan sudah dua tahun sejak pertemuannya dengan wanita Palembang bernama Ayu, namun entah mengapa ia tetap tak bisa melupakan gadis pemandu wisata itu, sepotong hatinya tertahan di sebuah kota. Kota Palembang, yang awalnya ada keraguan untuk membuka bisnis kafenya di sana sekarang malah membawanya pada suatu kerinduan yang teramat dalam kepada wanita yang hanya dikenalnya dalam waktu tiga hari, kerinduan akan budaya Palembang, kulinernya serta masyarakatnya yang ramah.
Tuhan mempertemukan ia dan Ayu bukanlah suatu kebetulan. Semua sudah digariskan, dulu Alex berpikir bahwa hidupnya sudah begitu sempurna, ia kaya, disukai banyak wanita, hidup dengan berfoya-foya tanpa ada aturan yang mengekang. Namun sekarang ia sadar, ada kekosongan di hatinya. Hati yang tidak pernah terisi keimanan dan keyakinan, hati yang terluka oleh perceraian orang tuanya dan hati yang tidak pernah bisa untuk mencintai, namun semua berubah. Tiga hari yang mengubah pemikirannya, bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan. Bahkan berkat Ayu hubungan ia dan orang tuanya kembali harmonis.
Bukankah pelangi tidak akan indah jika hanya satu warna? Alex tidak tahu apa jalan yang dipilihnya ini benar namun Alex yakin Ayu telah membuat warna di hidupnya. Alex tidak tahu apa rasa yang ia rasakan kepada Ayu ini cinta. Namun ia tidak ingin awal kisah cintanya berakhir tragis seperti kisah Tan Bun An, ia tahu bahwa jalan cintanya kepada Ayu tidaklah mudah, apalagi ia harus menyesuaikan adat, budaya ketimuran yang memegang prinsip dan agama yang kuat yang berbanding terbalik dengan pemikiran ia dan keluarganya yang berasal dari budaya barat yang memakai pemikiran logis di atas segalanya.
Keluarga yang memandang budaya itu kolot dan agama serta adat-istiadat itu hanya membatasi tingkah laku manusia, namun semenjak ia mengenal Ayu entah mengapa ia mulai mempertanyakan siapa Tuhannya?, ia mulai belajar tentang agama, hidup dengan budaya dan adat istiadat itu ternyata mengasyikkan. Budaya Palembang yang diperlihatkan Ayu kepadanya banyak sekali mengajarkannya tentang arti kehidupan yang sangat berharga.
‘Sepotong Hati’ nama sebuah kafe baru di kawasan Benteng Kuto Besak di tepian Sungai Musi, nama yang terkesan aneh bahkan terkesan mendalam bagi yang mendengarnya. Di dalamnya terlihat banyak pengunjung yang datang menikmati segelas kopi atau makanan khas palembang, tekwan, pempek ataupun mie tek-tek yang disajikan lebih berkelas, namun ada juga makanan ringan seperti kentang goreng, burger, dan lainnya. Nuansa kafe ini didominasi oleh pernak-pernik asal Palembang, mulai kain songket yang di pajang di dinding-dinding kafe, foto-foto sejarah Palembang, dan yang paling menarik di situ terpajang sebuah lukisan perempuan berhijab merah muda dengan senyumannya yang khas yang banyak sekali pengunjung tanyakan kepada pegawai kafe tersebut, sebenarnya siapa wanita yang ada di dalam lukisan tersebut?, namun hanya pemilik kafe yang tahu siapa pemilik senyuman itu.
Di suatu senja.., Seorang Perempuan tertegun, ia memandang lukisan dengan mata yang berkaca-kaca. Alex berjalan menghampiri perempuan itu, langkahnya semakin mantap. Satu demi satu, perlahan tapi pasti ia mendekat, kemudian ia tersenyum. Penantian yang sangat panjang itu kini telah menemui ujungnya...
“Hai.., apa kabar??”. Ucap Alex.
Perempuan itu pun tersenyum kecil ke arahnya. Senyuman khas, dialah pemilik senyuman di lukisan itu. Seketika perempuan itu teringat akan sebuah pertanyaan yang pernah diajukan seorang laki-laki kepadanya dua tahun lalu.
“Apakah kamu sudah menemukan pangeranmu?”.
 “Belum, tapi saya yakin Allah akan menuntun saya kepada laki-laki yang bisa menjadi imam dan pemimpin yang baik bagi saya kelak. Saya yakin!”.

Selesai!!!

Sabtu, 08 Desember 2012

CERPEN MISTERI : SIMFONI HITAM...



Hai, hai... ini cerpen misteri pembunuhan mungkin yang paling mengerikan gue buat, atut..., gue lihat di statistik blog gue di sumber lalu lintasnya banyak banget yang nyari cerpen misteri dan yang nyari cerpen tentang cewek gendut, jadi gue pengen menyatukan kedua faktor itu, tentang cerpen misteri dan cewek gendut, yang buat gue jadi miris setelah lihat sumber lalu lintas blog gue, banyak banget pencarian kata-kata tentang cewek gendut yang dianiaya, cewek gendut yang dihina, gue harap bagi temen-temen yang masih suka ngejekin orang lain, udah deh berhenti, kenapa sih suka banget menindas orang, kayak dia sempurna aja, semua mahluk ciptaan Tuhan di dunia ini gak ada yang sempurna, termasuk gue juga elo-elo, makanya saling menghargai itu baru paling bener dah..., yud baca aja deh cerpennya cekkidot...
   
“AAHHHH…!!!”, Anak perempuan itu melemparkan kotak makanannya ke lantai, di dalam kotak makanan itu penuh cacing tanah yang jumlahnya mungkin puluhan.
Anak perempuan itu menangis, “Kenapa kalian jahat sama gue?! Apa salah gue, kenapa kalian ngelakuin semua ini…”, ucap anak perempuan itu terbata-bata kepada anggota genk beauty, genk beauty adalah kelompok yang paling berkuasa di SLTP XXX  tersebut, mereka selalu membully anak-anak yang terlihat lemah di SMP itu, namun tindakan mereka tidak pernah diketahui oleh guru karena anak yang lain takut untuk mengadukan mereka kepada para guru, itu semua karena ketua genk beauty adalah anak dari pemilik saham terbesar di sekolah mereka, jadi mereka hanya bisa menutup mulut mereka dan melihat bagaimana genk beauty memperlakukan korbannya dengan seenaknya.

Sabtu, 01 Desember 2012

HE'S MY SHORT PRINCE!



Anyong! Ini cerpen terbaru gue, gue bikin cerita ini berdasarkan kisah nyata teman gue SMP dulu, namanya Rika, dan cowoknya gue lupa siapa, tapi yang jelas ceritanya mirip banget dengan cerpen gue kali ini, masalahnya mereka berdua akhirnya gak jadian cuma berteman saja, tapi gue tambah-tambahin dan gue buat akhir yang sedikit berbeda, haha... maaf ya Ka, semoga Rika yang lihat gak marah sama gue, moga suka bacanya, enjoyed it!!!

He's my short PRINCE !

“Perkenalkan anak-anak, ini Prince Sebastian, dia anak pindahan dari Kalimantan, Tian kamu duduk di sebelah Mika...” jelas Pak Heru.                                
            PRINCE..!!??” teriak Mika kencang, kaget dan mungkin sedikit histeris, bagaimana tidak, Prince adalah musuh bebuyutannya  waktu SD, jadi bagaimana mungkin Mika tidak ingat dengan cowok tengil yang suka menganggunya dulu.
Prince bergegas duduk di sebelah Mika, “Hai, ternyata lo masih ingat dengan teman lama lo dulu, lo pasti bahagia banget yah, bisa ketemu lagi sama gue...” Prince tersenyum kecil.  

Rabu, 31 Oktober 2012

PESAN KEMATIAN DARI FLORENCE (CERPEN MISTERI)


“Sayang, lihat nih, Ayah bawain kamu hadiah!”, Ayah memegang sebuah sangkar burung yang berukuran sedang, di dalamnya ada seekor burung beo dewasa, sayapnya berwarna hijau,
burung itu kelihatan lucu sekali, dengan sigap aku langsung meraih sangkar tersebut dari tangan
Ayah.
      “Makasih yah, ini untuk Rika?”, Tanya ku ragu.
Ayah menganggukkan kepalanya, “Terima kasih yah, Rika seneng banget, namanya siapa?”
“Ayah belum memberinya nama, bagaimana kalau kamu yang berikan dia nama, nama yang kamu suka…”

Selasa, 18 September 2012

Tan itu seksi atau dekil sih..??

Pasti kalau ngomongin macet identik sama Jakarta, tapi sekarang macet bukan hanya terjadi di kota Jakarta aja tapi juga di kota-kota besar lain termasuk kota gue juga, makanya gue memutuskan untuk memakai motor kalau kemana-mana, maksud hati biar waktunya jadi lebih singkat namun gue gak mikirin dampaknya yaitu ke KULIT!! satu atau dua bulan masih kulit gue masih normal-normal aja tapi setelah memasuki 6 bulan ke atas, kulit gue yang sebening embun berubah menjadi sawo matang terutama di bagian lengan, OMG!! sekarang FARAH QUEEN aja lewat.., hiks! T_T berbagai cara gue lakuin buat ngembaliin warna kulit gue ke semula dari pake sunblock yang SPF 30, pake batu apung, lotion pemutih sampe mandi lulur tiap hari, tapi tetap aja gak balik2 juga, mungkin kalau gue ngurung diri atau bersemedi di dalam rumah selama satu tahun tanpa keluar baru bisa ngembaliin warna kulit gue!, gue curhat ke mama dia bilang kalau di bali pasti banyak yang suka apalagi bule-bule, WHAT'S??!! di BALI?? masalahnya gue tinggal dan besar di PALEMBANG, hanya orang yang aneh sekedar ingin nyari cowok aja sampai pindah ke BALI! dan kebanyakan teman cowok gue di sini menilai cewek cantik itu, harus putih bersih, berambut panjang, tinggi n langsing, mendengar kriteria mereka mengenai kata CANTIK hati gue langsung hancur berkeping-keping, HELLO?! mereka mau nyari cewek atau mau milih miss universe sih?!, untung saja mereka gak nambahin  putih, rambut panjang, tinggi, langsing dan di belakang punggungnya bolong, hihihi... alias tante kuntilanak, susah juga sih kalau sebagian cowok masih menilai cewek begitu, padahal menurut gue mau secantik apapun cewek tapi kalau gak smart tetap aja kita illfeel ngeliatnya, tadinya gue berpikir kulit TAN itu dekil, n gak enak dilihat tapi setelah gue lihat kenyataan yg ada sekarang orang luar aja  mau datang ke BALI jauh2 sekedar mencoklatkan kulit mereka ke pantai! jadi menurut gue, gue harus percaya diri aja dengan kulit tangan gue yang belang dengan muka gue, kalau pe-de mau gimanapun warna kulit dan bentuk tubuh dan apapun yang kita pakai pasti kelihatan cantik juga!
Ya udahlah ini hanya sekedar cuap-cuap gak penting, hanya ingin sharing aja sama kalian kalau mau baca SYUKUR kalau gak mau KEBANGETAN!! hahaha... gak ding,, kalau gak mau baca juga GPP....

Selasa, 11 September 2012

YES I AM BEAUTIFUL!!

HELLO... i'm back, ini cerpen terbaru yang hampir mau lama, maksudnya?? maksudnya adalah ini cerpen lama yang udah gue buat tapi baru sekarang gue publikasikan, bukan apa-apa sih, tapi gue takut kalian pada gak suka karena ini bukan cerita cinta yang terlalu termewek-mewek tapi cerita mengenai semangat seorang cewek gendut yang mempunyai semangat untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik, setelah di bully secara hati dan perasaan oleh teman sekelasnya, gue pengen membuka mata hati semua anak-anak yang masih suka ngebully adek kelas atau temannya mulai sekarang berhenti melakukan itu, STOP BULLYING!! itu gak akan menjadikan kalian menjadi merasa lebih baik yang ada malah di dalam hati kalian akan merasa tersiksa, jadi gue harap dengan cerpen ini kalian gak perlu minder dengan bentuk tubuh yang kalian miliki, mau gendut, kurus, tinggi atau pendek yang terpenting bisa menghargai diri sendiri itu baru yang namanya CANTIK!! jadi baca aja deh, ntar dikira gue mau jadi motivator nyaingin Pak Mario Teguh, PIECE PAK!


 CANTIK ??

“Gendut!!, awas tuh lemak lo berceceran, hahaha...”, ejek Rino kegirangan.
Fine... gak papa, lagipula sudah kesekian ratus kalinya setiap pagi Rino mengejekku dan bagaimana aku bisa membalasnya kalo memang keadaan tubuhku seperti itu, melar seperti karet yang direndam ke dalam minyak tanah.
                “Gila bener..., tuh perut atau kasur busa ca”, teman cowok lain menimpali.
Sabar...sabar ca, batinku. Aku langsung meletakkan tasku dibangku dan segera keluar kelas tanpa mau mendengar embel-embel omongan yang tidak mengenakkan telinga yang keluar dari mulut Rino dan teman-teman cowok sekelasku.