SEMAKIN BANYAK YANG TERSESAT DI BLOG INI SEMAKIN BAGUS!

Rabu, 31 Oktober 2012

PESAN KEMATIAN DARI FLORENCE (CERPEN MISTERI)


“Sayang, lihat nih, Ayah bawain kamu hadiah!”, Ayah memegang sebuah sangkar burung yang berukuran sedang, di dalamnya ada seekor burung beo dewasa, sayapnya berwarna hijau,
burung itu kelihatan lucu sekali, dengan sigap aku langsung meraih sangkar tersebut dari tangan
Ayah.
      “Makasih yah, ini untuk Rika?”, Tanya ku ragu.
Ayah menganggukkan kepalanya, “Terima kasih yah, Rika seneng banget, namanya siapa?”
“Ayah belum memberinya nama, bagaimana kalau kamu yang berikan dia nama, nama yang kamu suka…”
Aku terdiam sejenak memikirkan nama yang cocok untuk burung lucu ini, “FLORENCE!!”,teriakku kencang.
      “Florence?!”, Ayah terlihat bingung mendengar nama yang ku berikan.
“Iya, FLORENCE, , dia itu musuh Erika di sekolah, jadi Erika pakai namanya saja..” jelasku dengan nada kesal, seketika itu aku teringat lagi akan kelakuan Florence selama ini kepada ku,
dia selalu saja mencari gara-gara dengan ku, mulai dari mengejek badanku papan cucian, si mata
empat, sampai olive oil, kekasihnya popeye, karena bentuk badanku yang kurus, itulah mengapa
aku tidak suka padanya.
Ayah tertawa geli, “Kamu ada-ada saja, kalau dia sampai tahu, bisa-bisa dia marah dan semakin menjahili kamu ka, kamu mau?” Tanya Ayah.
      “Biarkan saja, dia itu beraninya main keroyokan, coba kalau tidak ada teman-temannya,
mana berani dia mengejek Erika.” Jawabku cuek.
Ayah membelai rambutku dengan lembut, “Ya sudah, terserah Erika saja, mulai sekarang kamu  yang harus mengurus Florence, biar dia bisa tumbuh menjadi burung yang cantik.”
      “Okay!” jawabku singkat.

********


Dua bulan terakhir setelah Florence diberikan Ayah kepadaku, dia sama sekali belum bisa mengucapkan satu kalimat pun, padahal Ayah bilang kalau Florence sudah bisa berbicara sewaktu Ayah mendapatkannya dari temannya Om Doni, tapi entah kenapa Florence tidak mau berbicara satu kata pun, padahal aku sangat ingin sekali mendengar ucapannya untuk pertama kalinya, atau setidaknya mengucapkan nama ku saja, aku pasti sudah senang bukan main. Aku meletakkan Florence di  jari telunjuk tangan kiri ku, sambil membelai kepalanya dengan lembut, aku mengajaknya berbicara, “Kenapa sih kamu gak mau ngomong, atau kamu ingin selamanya diam seperti ini, ayo ngomong!”, ucapku tak sabaran.
Aku tahu, kelakuan ku mungkin seperti orang bodoh, mengajak bicara hewan yang sama sekali tidak mengerti ucapanku, rasanya aku mulai pesimis kalau Florence akan mau bicara, tapi tiba-tiba saja Florence mengucapkan sebuah kalimat  untuk pertama kalinya, tapi bukannya aku senang mendengar kalimat  dari mulut Florence, malah ucapannya membuat bulu kuduk ku merinding ketakutan.
      “DIAN KEDINGINAN…DIAN MATI… KASIHAN DIAN…”, “DIAN KEDINGINAN…
DIAN MATI… KASIHAN DIAN…”, berulang kali Florence mengucapkan kalimat itu, aku tidak tahu apa artinya yang jelas dia sudah berhasil membuatku ketakutan setengah mati, tidak
mungkin seekor beo mengucapkan kata-kata yang asal saja disebutkannya kalau tidak ada yang
di dengarnya terlebih dahulu dan direkamnya di dalam ingatannya, bergegas aku memberitahukan kejadian barusan kepada kedua orang tua ku tapi mereka mengatakan, mungkin
Florence pernah mendengar acara televisi tentang berita pembunuhan atau sinetron, tapi aku
masih tidak percaya seratus persen karena sesudah itu kalimat Florence bertambah banyak
menceritakan tentang Dian, seperti “RASAKAN DIAN…RASAKAN DIAN…”, “DIAN
LAPAR…DIAN LAPAR…”, seketika itu aku berpikir, aku harus menyelidi yang sebenarnya
terjadi kenapa sampai Florence bisa mengatakan kata-kata yang mengerikan seperti itu.

Aku menelpon Om Doni, menanyakan apakah dia kenal dengan orang yang bernama Dian,
namun Om Doni sama sekali tidak tahu tentang Dian, setelah itu aku menanyakan siapa yang
pertama kali memelihara Florence sebelum Om Doni, Om Doni memberikan alamat rumah
tempat di mana Florence pertama kali di pelihara, dengan sigap aku menuju ke alamat itu, rasa
ingin tahu ku sudah sampai pada puncaknya, aku ingin sekali mengetahui sebenarnya di balik
ucapan-ucapan Florence.
            “Lo beneran Ka, mau nanyain masalah Florence ke yang punya rumah ini?” Tanya Evan, Evan sahabatku sejak SMP sampai kelas 3 SMA seperti sekarang, makanya semua masalah ku termasuk tentang Florence ku ceritakan padanya.
Aku mengangguk tegas, “Beneran, karena dia yang tahu semua tentang Florence, kata Om Doni sudah satu tahun dia memelihara Florence di rumahnya, jadi mungkin saja dia tahu apa yang terjadi..”, jelasku panjang lebar.
Dengan segenap keberanian, ku ketuk pintu berwarna hijau di depanku, setelah cukup lama aku dan Evan mengetuk pintu itu, keluarlah seorang pria paruh baya dari balik pintu.
      “permisi pak, Betul ini rumah pak Heru?” Tanya ku sopan.
“Ya betul, saya sendiri Heru, ada keperluan apa ya dek?”, tanyanya bingung melihat keberadaanku dan Evan.
Aku dan Evan saling berpandangan, aku melihat Evan melotot ke arahku, mungkin ia ingin mengatakan ‘Jangan lo tanyain Ka, awas kalau sampai lo tanyain tentang ucapan Florence’, namun aku tetap pada pendirianku, aku tidak akan berhenti menyelidiki tentang Florence sebelum aku tahu dengan jelas.
“Begini pak, apa bapak kenal dengan orang yang bernama Dian?” tanyaku serius, seketika aku melihat raut terkejut di wajah lelaki itu, wajahnya berubah pucat pasi mendengar nama Dian.
            “Ma, maaf.., saya tidak kenal dengan nama itu, mungkin kalian salah alamat, jadi kalau tidak ada kepentingan lagi, saya harus pergi bekerja!”, ucap lelaki itu tergesa-gesa, sebelum dia menutup pintu aku melihat anak cowok yang masih kecil yang digendong oleh seorang wanita cantik, tampaknya wanita dan anak kecil itu adalah istri dan anaknya.
      “Tapi pak, Florence…”, Evan menarik tangan ku untuk keluar dari pekarangan rumah itu.
Aku melepaskan genggaman Evan dari tanganku, “Lo apa-apaan sih, gue tuh mau nanya sama dia, dia kenal gak sama yang namanya Dian, eh malah main tutup pintu aja!” ucapku sewot.
“Ya iyalah dia tutup pintu, lo tuh nanyain pertanyaan yang gak penting, dia kan udah bilang gak kenal sama yang namanya Dian, eh elo tetap ngotot, terang aja dia marah..” jawab Evan.
Aku memandang Evan sinis, “Lo liat dong tadi reaksinya, sepertinya bapak itu kenal sama yang namanya Dian, kalau dia emang gak kenal, ngapain juga dia pasang reaksi terkejut gitu, pasti ada yang gak beres!”
“Lo tuh Ka, udah sering baca novel misteri makanya jadi kebawa-bawa di dunia nyata sadar Ka!” timpal Evan.
Kali ini aku menjitak kepala Evan dengan keras, “Lo tuh gak ngerti ya!, nanti gue buktiin ke elo kalau yang gue omongin itu pasti ada benarnya, liat saja nanti!!” teriakku ke telinga Evan.
Evan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bener-bener nih bocah!”
Hari ini aku ke rumah Om Doni, aku ingin dia menceritakan bagaimana keadaan Florence waktu masih bersamanya, aku harus tahu dengan jelas kondisi dan keadaan Florence waktu dipelihara Om Doni.
            “Waktu itu Om membelinya dari orang yang bernama Heru itu dengan harga yang relatif murah, yah karena burung itu kondisinya sudah memprihatinkan, maksudnya bulu-bulunya habis karena rontok dan karena dilepaskan secara paksa oleh Florence sendiri, dia juga waktu itu hanya mengucapkan kata ‘KASIHAN..’ tapi setelah itu tidak pernah bersuara lagi, makanya setelah Florence keadaannya membaik, Om memutuskan untuk memberikannya ke Ayah kamu, jadilah seperti sekarang Florence sampai ke tangan kamu.
Aku terkejut mendengar ucapan Om Doni, “KASIHAN OM…??!!”, itu yang diucapkan Florence juga waktu itu, pasti ini ada yang gak beres om, bapak itu pasti menyembunyikan sesuatu tentang yang diketahui Florence!”,  seru ku.
Om Doni menyeruput teh hangatnya, “Erika, Erika…, sudahlah gak usah terlalu dipikirin, nanti jadi pusing sendiri, namanya juga beo pasti ada saja yang di dengarnya langsung diikutin, wajarlah, normal…”, ucap Om Doni berusaha menasehati ku.
            “Kenapa sih Flo, semua orang gak ada yang mendukung aku menyelidiki hal ini, apa aku harus menyerah, apa kamu memang asal ngomong saja, ngomong dong Flo?, hmm…”, aku menghela nafas.
            “ERIKA…ERIKA…ERIKA…”, tiba-tiba Flo mengucapkan nama ku, rasanya senang bukan main akhirnya Flo menyebutkan nama ku, aku tidak tahu apa maksudnya, namun aku yakin ia seratus persen mendukung aku untuk menyelidiki hal ini, seketika timbul lagi semangatku untuk kembali menyelidiki ucapan Flo.
Entah jin apa yang merasuki aku, sehingga aku kembali berada di depan rumah Pak Heru lagi, kali ini dengan sedikit rasa ketakutan karena Evan tidak bisa ikut menemaniku, alasannya karena ingin main futsal dengan teman-temannya, huh… dasar Evan tidak setia kawan!
            “Adik mau kemana?, kok kayaknya dari tadi mondar-mandir di depan rumah Pak Heru?”, Tanya Ibu-ibu yang duduk di warung sebelah rumah Pak Heru.
Aku ikut duduk di warung tesebut, “Begini bu, saya Erika…, saya ada keperluan sedikit dengan Pak Heru, tapi sepertinya rumahnya kosong..”
            “Oh, dia jam segini masih kerja jadi buruh bangunan, kalau istrinya mungkin lagi pergi ke rumah Ibunya di kampung sebelah, kalau mau nunggu, sebentar lagi juga balik, kamu tunggu di sini saja daripada sendirian berdiri di depan rumah…”, ucap Ibu yang berbaju merah.
Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu kehadiran Pak Heru maupun Istrinya, namun belum juga ada tanda-tanda kehadirannya, namun tiba-tiba aku dikejutkan perkataan dari Ibu-ibu yang mengobrol di warung ini.
            “Kok rasanya sudah lama ya Dian gak kelihatan, biasanya tuh anak belanja di warung..”
            “Oh, kata bapaknya Dian tinggal di rumah Neneknya, makanya tuh anak gak pernah kelihatan.” Jelas Ibu warung.
Aku bingung, sangat bingung mendengar ucapan Ibu-ibu barusan, bagaimana bisa seorang Ayah tidak mengenal nama anaknya sendiri, padahal waktu itu dengan lantangnya aku menyebutkan nama Dian, bukan Bian, maupun Rian, jadi bagaimana mungkin Pak Heru salah dengar…
            “Jadi DIAN itu anak Pak Heru bu?”, tanyaku benar-benar penasaran.
            “Iya, Dian itu anak Pak Heru dari istri pertamanya, kasihan itu anak, dia harus tinggal sama Ayahnya dan Ibu tirinya di sini sementara Ibu kandungnya bekerja jadi TKW di Arab Saudi, padahal Ibu tahu benar kelakuan Ibu tirinya, dia itu sama sekali gak pernah sayang sama Dian, sering banget Ibu lihat Dian itu dipukuli di depan orang banyak tapi…,” belum sempat ibu itu meneruskan kalimatnya Ibu warung langsung memotong pembicaraan, “Hush.. jangan ngomong sembarangan, nanti ada fitnah…”, ucap Ibu warung, “Tapi memang benar kan yang saya katakan, makanya sekarang saya sudah lega kalau Dian sudah tinggal di rumah nenek kandungnya, daripada tinggal di…”, ucap Ibu itu seraya menunjuk rumah Pak Heru.
Pikiranku jauh melayang, sebenarnya apa yang disembunyikan Pak Heru, kenapa dia sampai harus berbohong tentang Dian, kenapa??, kenapa??
            “Kalau boleh tahu, rumah nenek Dian dimana ya bu??”
Hati ku tambah kacau balau memikirkan tentang Dian, apalagi setelah aku berkunjung ke rumah neneknya yang ternyata menganggap Dian dimasukkan Ayahnya ke Pondok Pesantren, aku tidak bisa berdiam diri saja melihat kejadian aneh ini, spontan aku menceritakan semua ucapan Florence sampai aku bisa masuk ke dalam peristiwa ini sangat jauh, Nenek Dian terkejut mendengarkan semua ceritaku, dia sama sekali tidak menyangka selama ini Pak Heru telah membohongi dia dan anaknya, yaitu Ibu kandung Dian, padahal Ibu Dian di Arab Saudi sudah beberapa kali menerima surat dari Dian yang mengatakan ia senang tinggal di Pondok Pesantren dan sangat merindukannya, ternyata itu semua hanyalah bohong!!
Akhirnya bagian dari ceritaku inilah yang sangat menyakitkan untuk di dengar, setelah kuceritakan semua kepada Nenek Dian, terungkaplah bahwa Dian tidak dimasukkan Ayahnya ke pondok pesantren, Polisi menemukan jasad Dian di belakang rumah Pak Heru di samping pohon pisang, ternyata selama ini Dian dianiaya Ibu Tirinya hingga tewas dan Pak Heru sama sekali tidak melakukan apapun untuk mencegah istrinya berbuat itu, aku sampai tak habis pikir bagaimana bisa wanita yang ku lihat waktu itu dengan tampang yang begitu polos bisa menyiksa anak berusia sepuluh tahun dengan kejamnya, dan Ayahnya sendiri sama sekali tidak melarang istrinya melakukan hal tersebut.  Ibu Dian hanya bisa meratapi nisan anaknya, anak yang selama ini selalu ia banggakan karena prestasinya di sekolah selalu memuaskan, anak yang selalu bisa membuatnya tersenyum, anak yang begitu ramah pada semua orang, tapi kini Dian hanya bisa diingatnya dalam kenangan, Pak Heru dan Istrinya menjadi tersangka dalam kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur yang mengakibatkan anak itu tewas.
Aku baru tahu kalau Florence adalah burung beo pemberian ibunya Dian untuk anaknya sebagai hadiah Dian sudah berprestasi di sekolah, Florence lah yang pertama kali menjadi teman Dian di rumah dan Florence jugalah yang ikut menyaksikan bagaimana perlakuan Ibu Tiri Dian terhadap majikannya, dan kata-kata Florence yang mengatakan ‘KASIHAN DIAN…DIAN KEDINGINAN…”,mungkin itu adalah ucapan adik tiri Dian yang masih berusia 4 tahun yang ikut menyaksikan perlakuan Ibunya terhadap Dian, mungkin ia ingin protes namun apa daya, dia masih terlalu kecil untuk mengerti…, kini adik tirinya di rawat oleh neneknya yang berada di Jawa.
            “Ternyata lo bener Ka, gue hampir ngira lo udah gila, seandainya Florence lebih cepat dipelihara oleh elo Ka, mungkin Dian masih bisa diselamatkan, dengan kejadian ini gue jadi tambah sayang dengan adik gue, gue harus jadi orang yang bisa melindunginya dan menyayanginya, gue harap kejadian yang menimpa Dian tidak menimpa anak-anak lain Ka…, bukankah keluarga itu satu-satunya tempat untuk berlindung dan mendapatkan kasih sayang…” jelas Evan seru.
            “Akhirnya aku tahu van, kicauan dan ucapan Florence ternyata suatu pesan kematian dari nya…” jawab ku lirih.
Aku tertegun menatap langit yang mendung, di dalam hati, aku berjanji akan merawat Florence dengan baik, mulai sekarang aku akan memberinya kenangan-kenangan manis, aku akan melatihnya mengucapkan kata-kata yang lebih pantas dan indah, seperti ‘AKU SAYANG DIAN’,  agar Dian bisa bahagia di atas sana melihat burung beo kesayangannya di rawat dengan baik, aku berdoa semoga Tuhan memberikan tempat terindah untuk Dian di surga-Nya…


 the end...




4 komentar:

  1. Gue mo ngucapiiin..Hepi Birthday Weweeeen ;p..Met Hari lahiir..Moga lu tmbah semangat nuliis, makiin keren tulisannya n cita2 lu TERKABUL..

    BalasHapus
  2. Gw baru baca cerpennya..Asiik wen bacanya..Mengalir n bikin penasaran ;p

    BalasHapus
  3. makasih kk, hohoho... lagi coba2 bwt cerpen misteri, klw emg bgus, Alhamdulilah!, brarti bs bikin cerpen misteri lg.. v^^

    BalasHapus
  4. cara penyampaian n alur ceritanya bagus..coba deh gali ide2 yg lbh bikin penasaran n ga ketebak endingnya..;p
    chayooo!!!!!!

    BalasHapus