“Sayang, lihat
nih, Ayah bawain kamu hadiah!”, Ayah memegang sebuah sangkar burung yang
berukuran sedang, di dalamnya ada seekor burung beo dewasa, sayapnya berwarna
hijau,
burung
itu kelihatan lucu sekali, dengan sigap aku langsung meraih sangkar tersebut
dari tangan
Ayah.
“Makasih yah, ini untuk Rika?”, Tanya ku
ragu.
Ayah
menganggukkan kepalanya, “Terima kasih yah, Rika seneng banget, namanya siapa?”
Aku
terdiam sejenak memikirkan nama yang cocok untuk burung lucu ini, “FLORENCE!!”,teriakku
kencang.
“Florence?!”, Ayah terlihat bingung
mendengar nama yang ku berikan.
“Iya, FLORENCE,
, dia itu musuh Erika di sekolah, jadi Erika pakai namanya saja..” jelasku dengan
nada kesal, seketika itu aku teringat lagi akan kelakuan Florence selama ini
kepada ku,
dia
selalu saja mencari gara-gara dengan ku, mulai dari mengejek badanku papan
cucian, si mata
empat,
sampai olive oil, kekasihnya popeye, karena bentuk badanku yang kurus, itulah
mengapa
aku
tidak suka padanya.
Ayah tertawa geli, “Kamu ada-ada
saja, kalau dia sampai tahu, bisa-bisa dia marah dan semakin menjahili kamu ka,
kamu mau?” Tanya Ayah.
“Biarkan saja, dia itu beraninya main
keroyokan, coba kalau tidak ada teman-temannya,
mana
berani dia mengejek Erika.” Jawabku cuek.
Ayah membelai rambutku dengan
lembut, “Ya sudah, terserah Erika saja, mulai sekarang kamu yang harus mengurus Florence, biar dia bisa
tumbuh menjadi burung yang cantik.”
“Okay!” jawabku singkat.
********
Dua bulan terakhir setelah Florence
diberikan Ayah kepadaku, dia sama sekali belum bisa mengucapkan satu kalimat
pun, padahal Ayah bilang kalau Florence sudah bisa berbicara sewaktu Ayah
mendapatkannya dari temannya Om Doni, tapi entah kenapa Florence tidak mau berbicara
satu kata pun, padahal aku sangat ingin sekali mendengar ucapannya untuk
pertama kalinya, atau setidaknya mengucapkan nama ku saja, aku pasti sudah
senang bukan main. Aku meletakkan Florence di
jari telunjuk tangan kiri ku, sambil membelai kepalanya dengan lembut, aku
mengajaknya berbicara, “Kenapa sih kamu gak mau ngomong, atau kamu ingin selamanya
diam seperti ini, ayo ngomong!”, ucapku tak sabaran.
Aku tahu, kelakuan ku mungkin
seperti orang bodoh, mengajak bicara hewan yang sama sekali tidak mengerti
ucapanku, rasanya aku mulai pesimis kalau Florence akan mau bicara, tapi tiba-tiba
saja Florence mengucapkan sebuah kalimat
untuk pertama kalinya, tapi bukannya aku senang mendengar kalimat dari mulut Florence, malah ucapannya membuat
bulu kuduk ku merinding ketakutan.
“DIAN KEDINGINAN…DIAN MATI… KASIHAN
DIAN…”, “DIAN KEDINGINAN…
DIAN
MATI… KASIHAN DIAN…”, berulang kali Florence mengucapkan kalimat itu, aku tidak
tahu apa artinya yang jelas dia sudah berhasil membuatku ketakutan setengah
mati, tidak
mungkin
seekor beo mengucapkan kata-kata yang asal saja disebutkannya kalau tidak ada
yang
di dengarnya terlebih dahulu dan
direkamnya di dalam ingatannya, bergegas aku memberitahukan kejadian barusan
kepada kedua orang tua ku tapi mereka mengatakan, mungkin
Florence
pernah mendengar acara televisi tentang berita pembunuhan atau sinetron, tapi
aku
masih
tidak percaya seratus persen karena sesudah itu kalimat Florence bertambah
banyak
menceritakan
tentang Dian, seperti “RASAKAN DIAN…RASAKAN DIAN…”, “DIAN
LAPAR…DIAN
LAPAR…”, seketika itu aku berpikir, aku harus menyelidi yang sebenarnya
terjadi
kenapa sampai Florence bisa mengatakan kata-kata yang mengerikan seperti itu.
Aku
menelpon Om Doni, menanyakan apakah dia kenal dengan orang yang bernama Dian,
namun
Om Doni sama sekali tidak tahu tentang Dian, setelah itu aku menanyakan siapa
yang
pertama
kali memelihara Florence sebelum Om Doni, Om Doni memberikan alamat rumah
tempat
di mana Florence pertama kali di pelihara, dengan sigap aku menuju ke alamat
itu, rasa
ingin
tahu ku sudah sampai pada puncaknya, aku ingin sekali mengetahui sebenarnya di
balik
ucapan-ucapan
Florence.
“Lo
beneran Ka, mau nanyain masalah Florence ke yang punya rumah ini?” Tanya Evan, Evan
sahabatku sejak SMP sampai kelas 3 SMA seperti sekarang, makanya semua masalah
ku termasuk tentang Florence ku ceritakan padanya.
Aku mengangguk tegas, “Beneran,
karena dia yang tahu semua tentang Florence, kata Om Doni sudah satu tahun dia
memelihara Florence di rumahnya, jadi mungkin saja dia tahu apa yang
terjadi..”, jelasku panjang lebar.
Dengan segenap keberanian, ku ketuk
pintu berwarna hijau di depanku, setelah cukup lama aku dan Evan mengetuk pintu
itu, keluarlah seorang pria paruh baya dari balik pintu.
“permisi pak, Betul ini rumah pak Heru?”
Tanya ku sopan.
“Ya betul, saya
sendiri Heru, ada keperluan apa ya dek?”, tanyanya bingung melihat keberadaanku
dan Evan.
Aku dan Evan saling berpandangan,
aku melihat Evan melotot ke arahku, mungkin ia ingin mengatakan ‘Jangan lo
tanyain Ka, awas kalau sampai lo tanyain tentang ucapan Florence’, namun aku
tetap pada pendirianku, aku tidak akan berhenti menyelidiki tentang Florence
sebelum aku tahu dengan jelas.
“Begini pak, apa
bapak kenal dengan orang yang bernama Dian?” tanyaku serius, seketika aku
melihat raut terkejut di wajah lelaki itu, wajahnya berubah pucat pasi
mendengar nama Dian.
“Ma,
maaf.., saya tidak kenal dengan nama itu, mungkin kalian salah alamat, jadi
kalau tidak ada kepentingan lagi, saya harus pergi bekerja!”, ucap lelaki itu
tergesa-gesa, sebelum dia menutup pintu aku melihat anak cowok yang masih kecil
yang digendong oleh seorang wanita cantik, tampaknya wanita dan anak kecil itu
adalah istri dan anaknya.
“Tapi pak, Florence…”, Evan menarik tangan
ku untuk keluar dari pekarangan rumah itu.
Aku melepaskan genggaman Evan dari
tanganku, “Lo apa-apaan sih, gue tuh mau nanya sama dia, dia kenal gak sama
yang namanya Dian, eh malah main tutup pintu aja!” ucapku sewot.
“Ya iyalah dia
tutup pintu, lo tuh nanyain pertanyaan yang gak penting, dia kan udah bilang
gak kenal sama yang namanya Dian, eh elo tetap ngotot, terang aja dia marah..”
jawab Evan.
Aku memandang Evan sinis, “Lo liat
dong tadi reaksinya, sepertinya bapak itu kenal sama yang namanya Dian, kalau
dia emang gak kenal, ngapain juga dia pasang reaksi terkejut gitu, pasti ada
yang gak beres!”
“Lo tuh Ka, udah
sering baca novel misteri makanya jadi kebawa-bawa di dunia nyata sadar Ka!”
timpal Evan.
Kali
ini aku menjitak kepala Evan dengan keras, “Lo tuh gak ngerti ya!, nanti gue
buktiin ke elo kalau yang gue omongin itu pasti ada benarnya, liat saja
nanti!!” teriakku ke telinga Evan.
Evan
menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bener-bener nih bocah!”
Hari
ini aku ke rumah Om Doni, aku ingin dia menceritakan bagaimana keadaan Florence
waktu masih bersamanya, aku harus tahu dengan jelas kondisi dan keadaan
Florence waktu dipelihara Om Doni.
“Waktu itu Om membelinya dari orang
yang bernama Heru itu dengan harga yang relatif murah, yah karena burung itu
kondisinya sudah memprihatinkan, maksudnya bulu-bulunya habis karena rontok dan
karena dilepaskan secara paksa oleh Florence sendiri, dia juga waktu itu hanya
mengucapkan kata ‘KASIHAN..’ tapi setelah itu tidak pernah bersuara lagi,
makanya setelah Florence keadaannya membaik, Om memutuskan untuk memberikannya
ke Ayah kamu, jadilah seperti sekarang Florence sampai ke tangan kamu.
Aku
terkejut mendengar ucapan Om Doni, “KASIHAN OM…??!!”, itu yang diucapkan
Florence juga waktu itu, pasti ini ada yang gak beres om, bapak itu pasti
menyembunyikan sesuatu tentang yang diketahui Florence!”, seru ku.
Om
Doni menyeruput teh hangatnya, “Erika, Erika…, sudahlah gak usah terlalu
dipikirin, nanti jadi pusing sendiri, namanya juga beo pasti ada saja yang di
dengarnya langsung diikutin, wajarlah, normal…”, ucap Om Doni berusaha
menasehati ku.
“Kenapa sih Flo, semua orang gak ada
yang mendukung aku menyelidiki hal ini, apa aku harus menyerah, apa kamu memang
asal ngomong saja, ngomong dong Flo?, hmm…”, aku menghela nafas.
“ERIKA…ERIKA…ERIKA…”, tiba-tiba Flo
mengucapkan nama ku, rasanya senang bukan main akhirnya Flo menyebutkan nama
ku, aku tidak tahu apa maksudnya, namun aku yakin ia seratus persen mendukung
aku untuk menyelidiki hal ini, seketika timbul lagi semangatku untuk kembali
menyelidiki ucapan Flo.
Entah
jin apa yang merasuki aku, sehingga aku kembali berada di depan rumah Pak Heru
lagi, kali ini dengan sedikit rasa ketakutan karena Evan tidak bisa ikut
menemaniku, alasannya karena ingin main futsal dengan teman-temannya, huh…
dasar Evan tidak setia kawan!
“Adik mau kemana?, kok kayaknya dari
tadi mondar-mandir di depan rumah Pak Heru?”, Tanya Ibu-ibu yang duduk di
warung sebelah rumah Pak Heru.
Aku
ikut duduk di warung tesebut, “Begini bu, saya Erika…, saya ada keperluan
sedikit dengan Pak Heru, tapi sepertinya rumahnya kosong..”
“Oh, dia jam segini masih kerja jadi
buruh bangunan, kalau istrinya mungkin lagi pergi ke rumah Ibunya di kampung
sebelah, kalau mau nunggu, sebentar lagi juga balik, kamu tunggu di sini saja
daripada sendirian berdiri di depan rumah…”, ucap Ibu yang berbaju merah.
Sudah
lebih dari setengah jam aku menunggu kehadiran Pak Heru maupun Istrinya, namun
belum juga ada tanda-tanda kehadirannya, namun tiba-tiba aku dikejutkan
perkataan dari Ibu-ibu yang mengobrol di warung ini.
“Kok rasanya sudah lama ya Dian gak
kelihatan, biasanya tuh anak belanja di warung..”
“Oh, kata bapaknya Dian tinggal di
rumah Neneknya, makanya tuh anak gak pernah kelihatan.” Jelas Ibu warung.
Aku
bingung, sangat bingung mendengar ucapan Ibu-ibu barusan, bagaimana bisa
seorang Ayah tidak mengenal nama anaknya sendiri, padahal waktu itu dengan lantangnya
aku menyebutkan nama Dian, bukan Bian, maupun Rian, jadi bagaimana mungkin Pak
Heru salah dengar…
“Jadi DIAN itu anak Pak Heru bu?”,
tanyaku benar-benar penasaran.
“Iya, Dian itu anak Pak Heru dari
istri pertamanya, kasihan itu anak, dia harus tinggal sama Ayahnya dan Ibu
tirinya di sini sementara Ibu kandungnya bekerja jadi TKW di Arab Saudi,
padahal Ibu tahu benar kelakuan Ibu tirinya, dia itu sama sekali gak pernah
sayang sama Dian, sering banget Ibu lihat Dian itu dipukuli di depan orang banyak
tapi…,” belum sempat ibu itu meneruskan kalimatnya Ibu warung langsung memotong
pembicaraan, “Hush.. jangan ngomong sembarangan, nanti ada fitnah…”, ucap Ibu
warung, “Tapi memang benar kan yang saya katakan, makanya sekarang saya sudah
lega kalau Dian sudah tinggal di rumah nenek kandungnya, daripada tinggal di…”,
ucap Ibu itu seraya menunjuk rumah Pak Heru.
Pikiranku
jauh melayang, sebenarnya apa yang disembunyikan Pak Heru, kenapa dia sampai
harus berbohong tentang Dian, kenapa??, kenapa??
“Kalau boleh tahu, rumah nenek Dian
dimana ya bu??”
Hati
ku tambah kacau balau memikirkan tentang Dian, apalagi setelah aku berkunjung
ke rumah neneknya yang ternyata menganggap Dian dimasukkan Ayahnya ke Pondok
Pesantren, aku tidak bisa berdiam diri saja melihat kejadian aneh ini, spontan
aku menceritakan semua ucapan Florence sampai aku bisa masuk ke dalam peristiwa
ini sangat jauh, Nenek Dian terkejut mendengarkan semua ceritaku, dia sama
sekali tidak menyangka selama ini Pak Heru telah membohongi dia dan anaknya,
yaitu Ibu kandung Dian, padahal Ibu Dian di Arab Saudi sudah beberapa kali
menerima surat dari Dian yang mengatakan ia senang tinggal di Pondok Pesantren
dan sangat merindukannya, ternyata itu semua hanyalah bohong!!
Akhirnya
bagian dari ceritaku inilah yang sangat menyakitkan untuk di dengar, setelah
kuceritakan semua kepada Nenek Dian, terungkaplah bahwa Dian tidak dimasukkan
Ayahnya ke pondok pesantren, Polisi menemukan jasad Dian di belakang rumah Pak
Heru di samping pohon pisang, ternyata selama ini Dian dianiaya Ibu Tirinya
hingga tewas dan Pak Heru sama sekali tidak melakukan apapun untuk mencegah
istrinya berbuat itu, aku sampai tak habis pikir bagaimana bisa wanita yang ku
lihat waktu itu dengan tampang yang begitu polos bisa menyiksa anak berusia
sepuluh tahun dengan kejamnya, dan Ayahnya sendiri sama sekali tidak melarang
istrinya melakukan hal tersebut. Ibu
Dian hanya bisa meratapi nisan anaknya, anak yang selama ini selalu ia
banggakan karena prestasinya di sekolah selalu memuaskan, anak yang selalu bisa
membuatnya tersenyum, anak yang begitu ramah pada semua orang, tapi kini Dian
hanya bisa diingatnya dalam kenangan, Pak Heru dan Istrinya menjadi tersangka dalam
kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur yang mengakibatkan anak itu tewas.
Aku
baru tahu kalau Florence adalah burung beo pemberian ibunya Dian untuk anaknya
sebagai hadiah Dian sudah berprestasi di sekolah, Florence lah yang pertama
kali menjadi teman Dian di rumah dan Florence jugalah yang ikut menyaksikan
bagaimana perlakuan Ibu Tiri Dian terhadap majikannya, dan kata-kata Florence
yang mengatakan ‘KASIHAN DIAN…DIAN KEDINGINAN…”,mungkin itu adalah ucapan adik
tiri Dian yang masih berusia 4 tahun yang ikut menyaksikan perlakuan Ibunya
terhadap Dian, mungkin ia ingin protes namun apa daya, dia masih terlalu kecil
untuk mengerti…, kini adik tirinya di rawat oleh neneknya yang berada di Jawa.
“Ternyata lo bener Ka, gue hampir
ngira lo udah gila, seandainya Florence lebih cepat dipelihara oleh elo Ka,
mungkin Dian masih bisa diselamatkan, dengan kejadian ini gue jadi tambah
sayang dengan adik gue, gue harus jadi orang yang bisa melindunginya dan menyayanginya,
gue harap kejadian yang menimpa Dian tidak menimpa anak-anak lain Ka…, bukankah
keluarga itu satu-satunya tempat untuk berlindung dan mendapatkan kasih sayang…”
jelas Evan seru.
“Akhirnya aku tahu van, kicauan dan
ucapan Florence ternyata suatu pesan kematian dari nya…” jawab ku lirih.
Aku
tertegun menatap langit yang mendung, di dalam hati, aku berjanji akan merawat
Florence dengan baik, mulai sekarang aku akan memberinya kenangan-kenangan
manis, aku akan melatihnya mengucapkan kata-kata yang lebih pantas dan indah,
seperti ‘AKU SAYANG DIAN’, agar Dian
bisa bahagia di atas sana melihat burung beo kesayangannya di rawat dengan
baik, aku berdoa semoga Tuhan memberikan tempat terindah untuk Dian di
surga-Nya…
the end...
Gue mo ngucapiiin..Hepi Birthday Weweeeen ;p..Met Hari lahiir..Moga lu tmbah semangat nuliis, makiin keren tulisannya n cita2 lu TERKABUL..
BalasHapusGw baru baca cerpennya..Asiik wen bacanya..Mengalir n bikin penasaran ;p
BalasHapusmakasih kk, hohoho... lagi coba2 bwt cerpen misteri, klw emg bgus, Alhamdulilah!, brarti bs bikin cerpen misteri lg.. v^^
BalasHapuscara penyampaian n alur ceritanya bagus..coba deh gali ide2 yg lbh bikin penasaran n ga ketebak endingnya..;p
BalasHapuschayooo!!!!!!